01:04 Posted In , , , , , , Edit This
From Wikipedia, the free encyclopedia
"Nappy" redirects here. For other uses, see Nappy (disambiguation) and Diaper (disambiguation).For the geological term, see diapir.Disposable baby diaper with resealable tapes and elasticated leg cuffs.Different kinds of outer diapers.

A diaper (in North America) or nappy (in the United Kingdom, Australia, many Commonwealth countries and Ireland) is a sponge-like garment which people wear who are incapable of controlling their bladder or bowel movements, or are unable or unwilling to use a toilet. When diapers become full and can no longer hold any more waste, they require changing; this process is often performed by a secondary person such as a parent or caregiver. Failure to change a diaper on a regular enough basis can result in diaper rash.

Diapers have been worn throughout human history, and made of cloth or disposable materials. Whereas cloth diapers are composed of layers of fabric such as terry towelling and can be washed and reused multiple times, disposable diapers contain absorbent chemicals and are thrown away after use. The decision to use cloth or disposable diapers is a controversial one, owing to issues ranging from convenience, health, cost, and their effect on the environment. Currently, disposable diapers are the most commonly used, with Pampers, Luvs, and Huggies being the most well-known brands in the industry. Plastic pants can be worn over diapers to avoid leaks.

Diapers are primarily worn by children who are not yet potty trained or suffer from bedwetting. However, they can also be used by adults who suffer from incontinence or in certain circumstances where access to a toilet is unavailable. These can include the elderly, those with a physical or mental disability, and people working in extreme conditions such as astronauts. It is not uncommon for people to wear diapers under dry suits. Diapers are usually worn out of necessity rather than choice, although there are exceptions; people such as infantilists and diaper fetishists wear diapers recreationally for comfort, emotional fulfillment, or sexual gratification. Terms such as "incontinence pads" can be used to refer to adult diapers.

An alternative to infant diapers is infant potty training or elimination communication, a technique that involves sound association, learning an infant’s body language, and reacting quickly enough to reach a suitable spot for elimination [1].

[edit] Types

[edit] Disposable
Since their introduction several decades ago, product innovations include the use of superabsorbent polymers, resealable tapes, and elasticised waist bands. They are now much thinner and much more absorbent. The product range has more recently been extended into children's toilet training phase with the introduction of training pants and pant diapers.

Modern disposable baby diapers and incontinence products have a layered construction[10], which allows the transfer and distribution of urine to an absorbent core structure where it is locked in. Basic layers are an outer shell of breathable polyethylene film or a nonwoven and film composite which prevents wetness and soil transfer, an inner absorbent layer of a mixture of cellulose pulp and superabsorbent polymers for wetness, and a layer nearest the skin of nonwoven material with a distribution layer directly beneath which transfers wetness to the absorbent layer.

Other common features of disposable diapers include one or more pairs of either adhesive or velcro tapes to keep the diaper securely fastened. Some diapers have tapes which are refastenable to allow adjusting of fit or reapplication following confirmation of an as yet unsoiled diaper. Elasticized fabric around the leg and waist areas aid in fitting and in containing urine or stool which has not been absorbed. Some diapers lines now commonly include wetness indicators, in which a chemical included in the fabric of the diaper changes color in the presence of moisture to alert the carer or user that the diaper is wet.[11] A disposable diaper may also include an inner fabric designed to hold moisture against the skin for a brief period before absorption to alert a toilet training or bedwetting user that they have urinated. Most materials in the diaper are held together with the use of a hot melt adhesive which is applied in spray form or multi lines, an elastic hot melt is also used to help with pad integrity when the diaper is wet.

Some disposable diapers include fragrances, lotions or essential oils in order to help mask the scent of a soiled diaper or to protect the skin. Care of disposable diapers is minimal, and primarily consists of keeping them in a dry place before use, with proper disposal in a garbage receptacle upon soiling. Stool is supposed to be deposited in the toilet, but is generally put in the garbage with the rest of the diaper. Cleaning is not required.

[edit] Cloth
Baby cloth diaper filled with extra cloth.

Cloth diapers are reusable and can be made from natural fibers, manmade materials, or a combination of both. They are often made from industrial cotton which may be bleached white or left the fiber’s natural color. Other natural fiber cloth materials include wool, bamboo, and unbleached hemp. Manmade materials such as an internal absorbent layer of microfiber toweling or an external waterproof layer of polyurethane laminate (PUL) may be used. Polyester fleece and faux suedecloth are often used inside cloth diapers as a "stay-dry" wicking liner because of the non-absorbent properties of those synthetic fibers.

Traditionally, cloth diapers consisted of a folded square or rectangle of cloth, fastened with safety pins. Modern cloth diapers come in a host of shapes, including preformed cloth diapers, all-in-one diapers with waterproof exteriors, and pocket or "stuffable" diapers, which consist of a water-resistant outer shell sewn with an opening for insertion of absorbent material inserts[12]. Closure methods include snap closures and hook and loop fasteners (such as Velcro).

Plus Minus Popok Sekali Pakai

00:48 Posted In , , , , Edit This

Keberadaan popok sekali pakai, memudahkan kita membersihkan si kecil setelah ia buang air kecil atau bab (buang air besar).

Anda tinggal membuka perekat, memasangkannya pada si kecil, dan merekatkannya kembali.

Namun, seperti juga alat bantu perawatan si kecil yang lain, popok sekali pakai memiliki kelebih dan kekurangan yang perlu disiasati, agar penggunaannya optimal serta tidak merugikan kesehatan si kecil.

  • Lama pemakaian: Popok sekali pakai dapat menampung hingga 3 kali bayi berkemih. Kondisi ini disebabkan karena popok sekali pakai dilengkapi teknologi gel penyerap.
  • Kenyamanan: Teknologi pembuatan popok sekali pakai berkembang sangat pesat saat ini. Popok telah dibuat berpori sehingga tidak menghalangi sirkulasi udara pada kulit bayi. Jenis popok ini terasa nyaman bagi kulit bayi dan tidak melembapkan kulit.
  • Kepraktisan: Popok sekali pakai tidak perlu dibersihkan. Dapat langsung dibuang setelah dipakai. Dilengkapi pita perekat, sehingga lebih mudah digunakan.

  • Harga: Harga popok sekali pakai berbeda untuk setiap merk. Akibatnya kita tidak bisa mendapatkan standar harga. Agar mendapatkan popok yang baik dan relatif terjangkau kita harus rajin membadingkan harga beberapa popok. Hal ini penting dipertimbang-kan, karena popok sekali pakai cenderung dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak setiap bulan.

  • Dampak lingkungan: Karena tidak dapat dipakai lagi, popok sekali pakai menimbulkan tumpukan limbah.

source:website conectique.com




WEB , http://indahfashion.blogspot.com

Also visit, http://indahlifestyle-healthy.blogspot.com



Popok Bayi Modern Pun Bisa Sebabkan Mandul

23:10 Posted In , , , , , , , Edit This
Popok Bayi Modern Pun Bisa Sebabkan Mandul
Setelah disposable diaper dibuat pertama kali oleh Victor Miller di tahun 1950, nama Pampers langsung melejit dan menjadi populer di seluruh dunia. Orangtua merasa senang dengan inovasi popok modern ini. Bagi mereka, disposable diaper adalah solusi yang tepat untuk masalah pipis dan berak para bayi. Selain bayi bisa tidur tenang karena “tidak terganggu” basah, orangtua pun senang karena tidak perlu mendengar tangis bayi karena ngompol. Tapi beberapa waktu lalu, sebuah penelitian memaparkan kalau disposable diaper sangat tidak aman bagi bayi. Selain masalah ruam popok, disposable diaper disebut-sebut sebagai salah satu pemicu munculnya kanker dan kemandulan.
Seorang ibu rumah tangga bercerita kalau bayinya yang berumur satu bulan mengalami ruam popok setelah memakai disposable diaper. Ia mencoba beberapa diaper dari yang murah hingga yang mahal (produk impor) tapi hasilnya tetap sama, daerah di sekitar pantat bayi menjadi kemerahan dan nampak lecet. Ia berpikir kalau disposable diaper akan membuat bayinya tetap kering seperti yang diiklankan di televisi, dan terhindar dari ruam popok.
Tapi nyatanya?. Bayi mungilnya tak urung sembuh. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke popok kain. Memang pada awalnya, ia rela membayar mahal demi kenyamanan bayinya dengan popok modern. Namun setelah berpikir untung ruginya, ia menyadari kalau popok kain adalah pilihan terbaik untuk putranya. Lain halnya dengan ibu tadi yang hanya dipusingkan dengan masalah ruam popok,
Consumer Protection Agency melaporkan masalah sehubungan dengan pemakaian disposable diaper, mulai dari pembakaran bahan kimia, pemakaian bahan kimia
berbahaya dan bau insektisida sampai kelakuan bayi yang sering menarik dan meletakkan disposable diaper ke hidungnya atau mulutnya.
Menurut laporan Journal of Pediatrics terdapat 54% bayi berumur 1 bulan yang mengalami ruam popok setelah memakai disposable diaper. Dalam artikel yang berjudul Disposable Diapers : Potential Health Hazards, Cathy Allison menyatakan kalau Procter & Gamble (produsen Pampers dan Huggies) melalui penelitiannya memperoleh data mencengangkan. Angka ruam popok pada bayi yang menggunakan disposable diaper meningkat dari 7,1% hingga 61%. Sementara itu Mark Fearer dalam artikelnya yang berjudul Diaper Debate-Not Over Yet menyatakan beberapa hasil studi medis menunjukkan angka peningkatan ruam popok dari 7% pada tahun 1955 sampai 78% pada tahun 1991.
Penyebaran ruam popok merupakan fenomena yang terjadi di permukaan disposable diaper. Hal itu disebabkan oleh alergi terhadap bahan kimia, kurangnya udara, temperatur tinggi karena dilapisi plastik yang sifatnya mempertahankan kalor (panas) di area popok, dan bayi jarang ganti karena mereka merasa kering meskipun pantat dalam keadaan lembab (basah).
Sebenarnya masalah ruam popok bisa diatasi dengan mengganti diaper sesering mungkin. Procter & Gamble melaporkan kalau rata-rata konsumen produk mereka mengganti diaper 5 kali sehari. Tapi beberapa peneliti dan ahli medis menyarankan agar mengganti diaper setiap 2 jam sekali. Jika masalahnya hanya ruam popok mungkin masih bisa dianggap enteng, orangtua hanya perlu membayar lebih mahal (dengan sering mengganti diaper) supaya bayinya bebas ruam popok. Tapi bagaimana dengan isu kanker dan kemandulan yang dikait-kaitkan dengan disposable diaper?
Pemicu Kanker dan Kemandulan
Pada tahun 2000 beberapa peneliti dari Universitas Kiel, Jerman melakukan sebuah riset mengenai Archives of Desease in Childhood yang dimuat dalam British Medical Journal. Penelitian yang melibatkan 48 bayi laki-laki itu dilakukan selama setahun untuk mengetahui efek yang ditimbulkan oleh disposable diaper. Para peneliti yang melakukan studi tersebut melaporkan bahwa bayi laki-laki yang menggunakan disposable diaper temperatur skortumnya (kantung kemaluan) mengalami kenaikan beberapa derajat dibanding yang tidak memakai.. Bagi seorang bayi laki-laki yang skortumnya sedang berkembang, hal tersebut merupakan perkara yang serius. Karena untuk memproduksi sperma dalam jumlah yang banyak, skortum harus bisa menjaga temperatur testis supaya suhunya lebih rendah dari suhu badan. Oleh sebab itu kenaikan satu derajat pun akan merusak kinerja skortum sebagai “mesin pendingin” testis.. Tentu saja fenomena ini akan membuat produksi sperma terganggu, yang berarti
kesuburan pria akan menurun. Peneliti yang melakukan studi tersebut menyatakan, “peningkatan temperatur skortum yang disebabkan oleh pemakaian disposable diaper akan mempengaruhi kualitas sperma bayi laki-laki dan meningkatkan angka terjadinya kanker testis di usia dewasa.” Mereka juga mengatakan kalau fisiologi mekanisme pendingin testis mengalami kerusakan secara signifikan.
Dalam melakukan studinya mereka juga meneliti pria Eropa yang lahir pada tahun 1975 (tidak lama setelah disposable diaper menjadi begitu populer dan digandrungi) . Para peneliti itu terkejut dengan penemuannya, ternyata jumlah sperma pria Eropa mengalami penurunan hingga 25% dalam 25 tahun terakhir. Sekitar 27000 pria Inggris yang sudah menikah menjalani perawatan ketidaksuburan setiap tahunnya, dan angka kejadiannya meningkat hingga 55% pada tahun 1995. Tim Hedgley, ketua National Fertility Assosiation mengatakan, “penelitian ini begitu mengejutkan dan penting untuk diketahui.”
Sementara itu, Dr. Simon Fishel, direktur Centre of Assisted Reproduction (Nottingham, Inggris) mengatakan, “teori tersebut sangat masuk akal dan saya tidak terkejut dengan hasilnya. Bagaimana pun disposable diaper dapat meningkatkan temperatur skortum bayi laki-laki dan tentu saja hal itu merupakan masalah besar karena kinerja skortum akan terganggu.” Sayangnya produksi besar-besaran disposable diaper tidak disertai penelitian terlebih dahulu terhadap efek sampingnya. Sehingga ada kemungkinan angka kejadian akan terus meningkat seiring dengan kurangnya pemahaman masyarakat tentang efek jangka panjang yang ditimbulkan oleh pemakaian disposable diaper.
Bahan Kimia Berbahaya dalam Disposable Diaper
Isu kenyamanan yang digencarkan oleh produsen diaper selalu berkisar pada masalah daya serap tinggi yang membuat kulit bayi tetap kering. Yah, tentu saja, Sodium Polyacrylate memang bisa bekerja sebagai super absorbent yang hebat, bahan yang berbentuk serbuk sebelum dicampurkan pada lapisan dalam disposable diaper memiliki daya serap lebih dari 100 kali dari beratnya di dalam air. Bahan kimia inilah yang mengubah cairan menjadi gel yang akan menempel di kulit bayi dan menimbulkan reaksi alergi. Disamping itu, bahan ini juga dicurigai sebagai biang keladi iritasi kulit dan demam. Ketika disuntikkan pada tikus percobaan menimbulkan hemorhage, kegagalan kardivaskuler, bahkan kematian. Anak-anak bisa terbunuh jika menelan 5 gram Sodium Polycrylate. Selain itu, bahan ini juga merusak daya tahan tubuh dan menurunkan berat badan para pekerja pabrik yang memproduksinya.
Bahan kimia lain yang terkenal tingkat bahayanya adalah dioxin. Dioxin dihasilkan dari proses produksi pemutih kertas. Sementara itu proses produksi disposable diaper menggunakan dioxin dalam bentuk gas klorin. Dalam artikel yang berjudul “Whitewash; Exposing the health and environmental dangers of woman’s sanitary product and dsposable diaper - what you can do about it”, Liz Amstrong dan Adrienne Scott menyatakan kebanyakan industri kertas melakukan proses pemutihan dengan menggunakan pulp whiter daripada klorin. Penyebabnya tak lain adalah bahan kimia yang termasuk dalam organoklorin (termasuk di dalamnya dioxin) ini sangat beracun dan bersifat persisten (menetap dalam tubuh).
Tributyl Tin (TBT) juga termasuk bahan yang digunakan dalam produksi disposable diaper. Bahan kimia ini selain menyebabkan pencemaran lingkungan juga sangat beracun. Penyebarannya bisa melalui kulit, jadi bisa dibayangkan tingkat bahayanya kalau kulit bayi yang sensitif memakai diaper yang mengandung TBT. Karena saking beracunnya bahan kimia ini dalam konsentrasi yang sangat kecil pun bisa mengakibatkan gangguan hormon disamping mengganggu sistem kekebalan tubuh. Tak tanggung-tanggung, orangtua yang memiliki bayi laki-laki perlu waspada karena bahan ini bisa menyebabkan kemandulan (pada bayi laki-laki). Ginny Caldwell dalam artikelnya yang berjudul Diapers. Disposable or Cotton?, menyatakan bahwa kerusakan dalam sistem saraf pusat, ginjal dan lever bisa disebabkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya yang ditemukan dalam disposable diaper.
Pada tahun 1999 The Archive of Environtmental Health melaporkan sebuah studi yang dilakukan oleh Anderson Laboratories. Dalam studi tersebut mereka membuka kemasan diaper lalu meletakkannya di dekat tikus-tikus percobaan. Tikus-tikus yang terekspos diaper tersebut menderita bronchoconstriction yang menyerupai serangan asma Tak hanya itu, tikus-tikus tersebut juga mengalami iritasi mata, kulit dan tenggorokan. Di dalam sebuah ruangan yang luas sekalipun emisi dari disposable diaper cukup mampu membuat tikus-tikus ini terserang asma. Bahan kimia yang ditemukan dalam disposable diaper yang mampu menyebabkan iritasi tenggorokan antara lain tolune, xylene, ethylbenzene, styrene, dan isopropylbenzene.
Tentu saja berbeda dengan popok kain yang terkenal aman karena tidak mengandung bahan kimia. Tikus-tikus percobaan tidak mengalami gangguan pernafasan seperti tikus-tikus yang terkena emisi diaposable diaper. Jadi sekarang saatnya mempertimbangkan lagi penggunaan disposable diaper supaya bayi aman dari efek jangka panjang yang ditimbulkan oleh disposable diaper.
SUMBER milis asiforbaby




WEB , http://indahfashion.blogspot.com

Also visit, http://indahlifestyle-healthy.blogspot.com


Custom Search




GrowUrl.com - growing your website